Tersesat Di Gunung Mutis (Dialog Version)
Tersesat Di Gunung Mutis
Cerpen By: Krisopras Eben Haezer
Cerita ini adalah kejadian pada tahun 2010 silam setelah 6 tahun peluncuran platform Facebook.
Namaku Sem, mulai hari ini aku akan berangkat ke rumah Pol bersama ketiga temanku yang lainnya Bernama Al, Ben, dan Nono untuk persiapan logistik dan persiapan budget menuju pendakian Gunung Mutis, kalau dari tempat Pol sendiri menuju lokasi gunung tersebut hanya berjarak sekitar 3 jam saja.
Al : “We Ben kamu baru perjalanan 2 jam sudah KO begitu, aku gak bisa bayangkan pas kita naik nanti ni”
Sem : “Kamu muntah-muntah sana di balik pohon sana” (kataku sambil agak emosi, Pol memberi Ben minum, setelah itu melanjutkan perjalanan)
Singkat cerita kami sudah sampai di Basecamp sekitar pukul 4 sore dengan melewati banyak sekali pemandangan yang indah seperti pepohonan besar dengan ranting dan dahan yang rindang, dan setahu saya pohon-pohon tersebut merupakan penopang ekonomi penduduk sekitar karena dahannya dipenuhi oleh sarang lebah madu hutan. Dan karena faktor kelelahan kami tidak langsung berangkat menuju pos 1 pendakian melainkan kami beristirahat 1 malam di Homestay yang terdapat di Basecamp gunung Mutis. Anehnya disitu pendaki yang datang cuman kami berlima. Kebetulan pemiliknya orang baik mau ngasih diskon ke kami karena saudara dekatnya si Nono juga. Dari jauh si Nono ini jarang bicara sama kami entah kenapa, terakhir berbicara sama kami waktu di rumah si pol. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore dan kami menyiapkan makan malam dan perbekalan untuk rencana berangkat ke pos satu di pagi buta pukul 4 subuh.
Pol : “Oyy Al si Nono kemana? Dari tadi sonde kelihatan”
Al : “Sonde tau bro di kamar yang ada cuman si Pol dan Ben yang lagi tertidur pulas, karena capek pastinya”
Seketika saya langsung bergegas mencari Nono di area Basecamp sekitar.
Saya : “Oh disitu kamu rupanya”(saat itu saya melihat Nono sedang minum air putihnya di bawah pohon besar dekat dengan sungai)
Saya : “Ngapain lu disitu No, sudah malam oyy banyak nyamuk, mari sudah pulang, kita makan empal sapi yang lu suka tu”
Nono: "..................." (Saat itu Nono hanya mengangkat alisnya sembari mengangkat jempol).
Dan kamipun Kembali berjalan bersama menuju Base Camp. Kami pun beristirahat di Base camp tersebut selama hampir satu malam penuh.
Tiba-tiba Alaram berbunyi menunjukkan waktu pukul setengah empat subuh, saya langsung membangunkan ke-empat teman saya untuk segera packing-packing.
Saya : “Oyy mari ketong bangun, weh Ben..ben, Al..Al, Pol….pol bangun sudah, weh… Nok nok, weh… Nono..lu rajin doa oo su bangun duluan” (Kataku sambil terbawa ngantuk sesaat)
Ben : “Beda..na…..” ,Kata si Ben.
Disini target estimasi saya sebagai pendaki senior yaitu untuk sampai ke pos satu kurang lebih satu jammanlah dengan berjalan kaki, harapan saya jangan sampai ada hujanlah. Singkat cerita kami pun berangkat berlima, dengan urutan pendakian Saya paling belakang, si Nono di depan saya, Ben urutan ketiga, Pol Urutan kedua, dan si Al paling depan. Al yang memiliki semangat juang tinggi saya tempatkan di depan, sedangkan saya lebih fokus untuk keamanan keempat kawan saya supaya tidak terjadi apa-apa.
Saat itu hawanya masih sangat-sangat dingin, maklum jam empat subuh masih ada kabut malam juga dan tak terasa kami sudah sampai pos satu pukul setengah enam pagi, dimana cahaya matahari sudah mulai menyelimuti kami. Di tengah perjalanan tadi, kami melihat keindahan alam yang sangat indah dimana di sekitar gunung ada banyak Kawasan hutan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman ampupu dan cendana, meski sepertinya terlihat ada banyak Kawasan kosong, tapi sesekali saya melihat di satu titik tertentu ada tumbuhan seperti bonsai dan paku-pakuan, lalu ada pohon besar juga. Setelah sampai kami pun beristirahat di pos itu sampai pukul 9 pagi dan melanjutkan perjalanan ke pos dua yang berjarak 3 jam dari lokasi pos satu.
Pol : “Wehhh aku terlalu loyo Al….”( Kata Pol yang waktu itu masih ngos-ngosan mendaki)
Al : “Kamu harus Latihan jalan sambil atur napas bro, setiap 3 tarikan napas 10 langkah pertama dan seterusnya”( Kata Al dengan bijak)
Pol : "Owh ok baiklah Al......"
Saya : “Gak papalah, kamu jalan pelan-pelan saja jangan buru-buru, lu tiru si Ben itu”
Al : “Ben Semangat yak…”( kata Al yang terlihat sedikit kecewa melihat Ben yang kurang fit mendaki)
Lalu Tiba-tiba Angin kencang berhembus dari arah barat, saya yang saat itu kebelet buang air kecil mengabari Nono yang kebetulan tidak terlalu jauh dari saya kira-kira 7 meter dibanding teman lainnya yang sudah sangat jauh dari saya.
Saya : “Nokkk…!! Aku mau kencing……!, kabari yang lain kalian duluan aja, nanti sebentar aku nyusul……!” (kataku dengan lantang)
Nono : “ Iyaaaaa hati-hati ular…..!” (Kata Nono dengan singkat)
Yang Nono harapkan untuk tidak terjadi malah jadi kenyataan, setelah saya selesai buang air kecil saya melihat ada mahluk panjang yang bergerak cukup cepat kearah saya, seketika saya berlari kencang untuk menghindari ular yang kira-kira panjangnya hampir 2 meter itu dengan warna hijau pucat berderik. saya mengeluarkan golok saya juga untuk berjaga-jaga. Beruntung ular tersebut tiba-tiba saja menghilang dibalik semak-semak tebal.
Saya : “Oh sial dimana aku?” (Kataku di dalam hati)
Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas pagi, dan semak-semak tebal itu seakan-akan memberitahukan saya bahwa saya salah jalan, dan ini sangat aneh padahal saya baru berpisah dengan Nono dan kawan lainnya sekitar 8 menit, namun tampilan trek yang saya lalui saat ini benar-benar telah berubah menjadi jalan setapak langka yang awalnya trek itu merupakan punggungan bukit tiba-tiba seperti kedalam lembah. Awalnya saya cukup panik, namun saya harus tetap fokus dan tenang, itulah nasehat abang senior saya dulu kalau kita tersesat. Dan saya memutuskan untuk tetap berjalan menyusuri lembah yang diatas saya itu terdapat tebing dengan ketinggian 100 meter lebih.
Karena mental saya cukup terkuras, saya mulai merasakan rasa lapar dan mengantuk, kala itu saya membawa cemilan untuk 2 hari saja. Pada akhirnya saya memutuskan untuk berhenti disebuah batu yang cukup besar beristirahat sejenak sembari makan dan minum lalu cuci muka. Namun tiba-tiba, saya mendengar ada suara langkah kaki seperti suara sepatu besar yang menginjak tanah, dan betul saja rupanya muncul sesosok kakek misterius yang datang sambil memikul kayu bakar dengan tandu bambu kebetulan bertemu dengan saya.
Kakek : “Ini kamunya kok sendiri?, temannya pada kemana?” (tanya kakek itu seolah dia tahu apa yang terjadi pada saya)
Saya : “Kek saya sekarang sedang mencari keberadaan teman-teman saya, saya ketinggalan” (mencoba menjawab dengan tenang)
Kakek : “oh….tadi kakek lihat mereka-mereka yang empat orang itu naik keatas sana, tapi bosong mainnya disini jangan kemalaman loh”
Saya : “Son papa kek, masih pagi, makasih lho udah kasih tahu saya”, Kakek : “Ngomong-ngomong saya ini disini sebatang kara lhoo, keluarga udah gak ada, kesepian kakek ini nak”
Saya : “Terus teman-teman kakek ada dimana? (Tanyaku dengan buru-buru)
Kakek : “Teman kakek udah gak tau kemana semua”
Saya : “Kok bisa kek?”
Kakek : “Usia saya udah 143 tahun nak”.
Saya : ".................... "
Saya yang kebingungan karena posisi saya pada saat itu makin kebingungan gara-gara percakapan itu, saya tidak mau memikirkan apa-apa dan sebelum saya pergi meninggalkan lokasi kakek itu, beliau memberi saya plastik putih yang rupanya isi singkong sama kentang bakar.
Kakek : “Nanti bagi-bagi aja bareng kawan-kawan diatas yak….”(kata kakek sebelum berpisah)
saya saat itu semakin khawatir tentang situasi teman-teman saya apalagi Ben dan Pol masih sangat pemula pada saat itu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang dan tidak terasa sudah sekitar satu jam berbincang ria dengan sang kakek aneh itu. Sambil berlari sekitar 100 meter dari lokasi awal, tiba-tiba saya mendengar suara yang tidak asing di telinga saya, saya seperti mendengar ada beberapa suara pendaki yang sedang merayakan sesuatu di puncak, dengan beberapa mars-mars heboh dari abad dua puluh. Namun dari jejak suara-suara yang ada, saya tidak menemukan siapa-siapa di hutan yang rimbun itu.
Entah kenapa saya lapar sekali dan saya mencoba singkong yang dikasih oleh si kakek tadi. Sambil berjalan santai, saya sudah kembali menuju trek-trekan yang sekiranya ini adalah jalan yang benar menuju pos dua, namun pos dua tersebut kosong tidak ada orang, meskipun begitu saya masih melihat sisa-sisa api kayu bakar yang masih nyala berkunang, yang menandakan bahawa barusan pasti ada pendaki lain disini, dan saya meyakini bahwa pasti ini bekas teman-teman saya yang sehabis membuat tenda.
Setelah berjalan 10 menit dari pos dua untuk menuju ke puncak, saya melihat awan betul-betul semakin gelap dan kabut menyelimuti hamparan pepohonan, saya tidak mau mengambil resiko dan bergegas kembali ke pos dua, untuk membuat tenda. Saat di perjalanan, hujan sudah sangat lebat dan tas saya serasa sangat berat padahal logisnya beban tas saya itu tidak akan sampai seberat ini rasanya seperti saya menggendong seseorang di belakang.
Saya : “Ahhh mungkin perasaanku saja, karena hujan“ (kataku dalam hati sambil berpikir positif)
sesampainya kembali turun ke bawah di pos dua, yang tadinya tidak ada tenda, tiba-tiba sekarang ada tenda besar yang kira-kira cukup untuk ditempati satu kelompok besar, saya langsung membunyikan peluit SOS saya, dan mereka semua keluar.
Saya : “Anji** kalian semua, dalam nama Yesus pergi kalian....!” (kataku sambil memaki)
terlihat 3 mahluk bayangan besar keluar dari tenda dengan mata merah menyeramkan hampir menyerupai perawakan beruang besar hanya saja lebih besar lagi dan gelap kira-kira hampir tiga meterlah. Saya langsung lari pontang panting gak tau tujuan kemana, antara keatas dan kebawah. Dan apa yang saya takutkan terjadi, tiba-tiba ada yang menarik tas besar saya dan saya menoleh kebelakang rupanya Si Pol yang kebasahan dan beberapa teman lainnya sambil meneriaki saya.
Pol : “Woiiiii kenapa kau weeee!?!?” (kata Pol sambil kebingungan)
Al : “Jangan aneh-aneh kamu Sem, lu kan masih demam toh, hujan-hujan lagi” (Kata Alfian yang terlihat kepanikan) dan Saya : “Kalian kenapa nggak nyari aku?, malah ninggalin, besong semua talalu konyol” (kataku sambil kecewa berat)
Si Ben yang terlihat tenang mengajak kami semua masuk ke dalam tenda dan memaksa kami menceritakan semua kejadian yang kami alami saat di pendakian. Ben dan Nono bercerita bahwa sekiranya kalau dia selama mendaki masih bersama-sama dengan saya dengan perawakan saya pada waktu itu memakai jaket tebal berwarna kuning gelap dengan kupluk hitam yang khas, hanya saja saat itu wajah saya sangat pucat dan terlihat seperti orang yang akan kehabisan nafas dan mau hypotermia, dan saya membantah mentah-mentah hal itu.
Saya : “wehh kalian su kasih tinggal beta hampir empat jam, sadar kalian!”
Cekcoklah kami semua disitu dan menyadari bahwa ada kejanggalan serius di gunung ini. Sementara itu hujan berlangsung sangat lama sekitar 5 jam tanpa henti, dan dari situ semua teman-teman saya terlihat ketakutan, apa lagi saat diperjalanan tadi si Pol sempat melihat penampakan perempuan jubah putih terbang dari pohon lontar ke pohon besar lainnya, terbang di siang bolong.Al membuatkan kami teh panas untuk memecah suasana. Dan tak terasa jam sudah menunjuk pukul setengah enam sore, dimana hujan sudah mulai reda yang harusnya target estimasi saya ke puncak Mutis bisa jam empat sore jadi terlambat berjam-jam dan mundur untuk melanjutkan perjalanan di pukul enam sore, kami waktu itu packing-packing barang. Kemungkinan kami sampai ke puncak Mutis sekitar pukul 8 kamis malam. Untuk menghindari kejadian yang sama kami mengubah urutan pendakian dimana saat itu saya yang paling senior malah ditempatkan junior-junior saya di paling depan dan Al yang membackup kami semua di paling belakang. Saat di perjalanan gelap itu tiba-tiba kami mencium bau parfum yang sangat pekat.
Pol : “Bau ap ini Bennnn?!”
Ben : “Parfum-parfum…. gak asing baunya, nok nok lu pake parfum tohhh?”(kata Si Ben sambil kebingungan)
Nono : “Mana ada sumpah….” (Kata nono yang terperangah)
Malam semakin mencekam setalah saya sadar bahwa jalan yang saya lewati itu adalah titik pertama yang kami lalui dimana ada banyak titik kawasan seperti tanaman bonsai dan paku-pakuan lebat lalu ada pohon besar ditengah-tengahnya.
Saya : “Stop-stop doloo, ini bukan jalan benar kita mutar kejalan yang sama seperti mau naik ke pos satu, disana itu pos satu kalau kita naik keatas…” (kataku dengan bijak)
Nono : “Udahan yuk kita pulang aj” (Disini yang awalanya nono terlihat pendiam sudah terlihat makin gelisah dan pucat)
Al : “Iya Sem lagian kita gak mungkin sampai jam delapan kalau begini” (kata Al yang juga terlihat ngeri sendiri)
Dan si Ben mulai menceritakan sejarah panjang terkait gunung Mutis yang begitu panjang selama perjalanan tentang keberadaan para Raja-raja bangsawan Timor jaman dahulu kala.
Dan awalnya kami sudah memutuskan untuk kembali naik ke pos satu yang berjarak dua puluh menit dari titik itu, untuk besok paginya kembali turun ke basecamp segera pulang. Dan ditengah perjalanan kami mendengar suara gong-gong yang berkumandang dan seperti ada suara sasando nyentrik dengan alunan merdu.
Suara Misterius : treng…treng…(suara sasando).
Saya : “Bentar lagi nyampe pos satu, kalian tetap tenang yak” (kataku untuk menenangkan mereka agar jangan panik.)
Al yang tadinya paling belakang......
Al : “Woiiiii lari-lari!!, lari semua jangan lihat belakang, pokoknya lari…….!!!” (Al terlihat panik sekali)
Pol terlihat berlari terbirit-terbirit berlari mendahuli saya ke pos satu, si Ben berlari sambil menangisi nasibnya yang sial.
Beruntung sampailah kami ke pos satu dan kami membangun tenda disana. Pol terlihat mengecek sinyal hp merek vivonya, siapa tahu ada sinyal dan bisa meminta bantuan segera dari basecamp, sayangnya tidak ada sinyal sama sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Pol : “Ayo mari berdoa kitanya” (kata Pol dengan lantang)
Kamipun berdoa dan membaca beberapa kutipan ayat Alkitab dari kitab Mazmur dan Amsal. TIBA-TIBA.....
Ben : “Astaga Al Alllllllll!!”(kata si Ben sambil meringis ketakutan)
Al yang nama kepanjangannya Alfian tersebut terlihat menari-nari seperti perempuan jawa, matanya yang tajam menjadi lentik seperti bukan matanya lagi. Suasana tenda kami dipukul sebelas malam berubah menjadi seperti hawa yang sangat panas seperti pukul dua belas siang karena wajah-wajah ketakutan kami. Saya yang paling seniorpun tidak tahu harus berbuat apa.
Al : “YANG DISANA BUKAN TUBUH TEMAN KALIAN!!”
dan akhirnya Al jatuh pingsan setelah keluar dari tenda dibawah pohon-pohon kecil. Tibalah Nono datang.
Nono : “Teman-teman kita harus segera pulang…”
Saya : "Okeh... Okeh tetap waspada selama peristirahatan... "
Kami pun beristirahat kembali kedalam tenda kira-kira sampai jam 5 pagi menjelang sunrise.
Al : “Sebelum turun kebawah, ayo kita berfoto dulu di puncak pos satu ini….” (kata Al setelah sekian lama beristirahat di dalam tenda)
Disini kami menyadari bahwa momen berharga kami satu-satunya yaitu pos satu ditemani oleh sunrise pukul enam pagi sebelum berpisah dengan gunung Mutis.
Pol : “Nok…nok mo kemana? Ayo foto….” (kata Pol dengan lantang)
Nono : “Aku gak ikutan yak, kita buruan pulang” (kata Nono dengan suara pelan)
Saya : “Kenapa noooo..?”
Nono : “Gak papa, kalian berempat aja foto”
Lalu aku menghampiri nono setelah berfoto dengan Al, Ben dan Pol.
Saya : “Inilah akibat kamu cuman makan roti sama minum air hangat terus, jadinya pucat-pucat terus” (kataku sembari menyindir kepada si Nono)
Dan seketika aku tiba-tiba menyadari plastik putih berisi singkong dan kentang bakar yang dikasih kakek 143 tahun itu, isinya berubah menjadi tumpukan sampah. Saya tidak menceritakan ini kepada teman-teman supaya tidak merusak suasana menyenangkan ini. Nono yang terlihat pucat tiba-tiba saja pamitan dengan kami.
Nono : “Eh kalian, aku turun duluan ya…..,Besong senang-senang aja dulu” Al : “Eh minum-minum dulu dong nokkk…jangan langsung tinggal begitu” (kata Al dengan nada kecewa)
Nono : “Gak papa nanti kita ketemuan dibawah aja di base camp”
Saya : “Ya udah duluan aja”
Ben : “Gak papa ninggalin dia sendirian?...” (kata si Ben kepada si Al)
Saya : “Sonde papa, lagian dia udah hafal jalan setapak…”
Tiga puluh menit setelah berfoto dan minum kopi, nyemil. Kami pun bergegas turun untuk mengejar Nono dibawah. Sampailah kami dibawah tepatnya di area Basecamp, kami pun duduk di warung milik Ibu-ibu cukup berumur di dekat Basecamp sambil pesan mie pangsit.
Ibu Warung : “Kalian kenapa main ke gunung sampai pas malam jumat kliwon?” (Kata Ibu itu sambil menyuguhkan makanan)
Saya : “Kami gak tau apa-apa Bu…,asli” (kataku dengan nada kaget)
Si Pol kembali ke warung setelah dari kamar Basecamp.
Pol : “Nono gak tau dimana, di kamar gak ada, di kebun juga sondeee ada…” (kata si Pol dengan nada panik)
Salah satu dari mereka mencoba menelepon ke nomor Nono namun tak diangkat padahal sinyal sudah ada saat itu, dan yang lainnya sedang sibuk dengan medsos mereka masing-masing.
Ben : “Sem….sem ini siapa sem?, kok di facebookku semua orang pada ngepost foto diaa…” (kata si Ben yang tadinya sibuk medsos jadi terlihat terperangah)
Aku yang kala itu sudah sangat-sangat kelelahan harus dihadapkan sebuah kenyataan bahwa ada kabar bahwa hari selasa tanggal 27 November 2010 kemarin siang, Nono kecelakaan motor setelah pulang dari membeli bahan logistik dari pasar untuk perjalanan pendakian kami dan dia harus kehilangan nyawanya ditempat. Kami semua benar-benar tak percaya kabar itu. Saat diperjalanan pulang Si Pol bercerita bahwa di kamar basecamp tadi dia sempat ketiduran 20 menit, dan bermimpi didatangi oleh si Nono yang tampak Bahagia dan bilang ke si Pol.
Nono :“Pol makasih ya udah nemanin mereka waktu mendaki meskipun sebenarnya kamu gak mau ikut mendaki, nanti bilang ke teman-teman, gak usah nyari aku lagi…., beta ni sekarang su bahagia, bisa menemani kalian semua, aku minta maaf kalau punya salah sama kalian selama ini, kasih salamku ke Si Sem..,Al…,Ben…., dan Dion adik gua di rumah” (cerita mimpi Pol sambil perjalanan menuju arah rumahnya si Nono)
Pol yang terlihat begitu paling merasakan kesedihan tersebut dia benar-benar meneteskan air mata hangatnya ke lantai mobil itu, kami semua pun ikut menangis. Sesampainya di rumah si Nono kami melihat setidaknya puluhan kerumunan orang yang menghampiri rumah nono beserta kami mendengar ada banyak suara-suara kesedihan. Dan tiba-tiba Dion adik si Nono datang menghampiri kami dan mengundang kami masuk melihat jenazah yang masih dibiarkan terbuka untuk dilihat oleh kami. Kamipun tak tahan melihat teman kami yang sudah tiada dan kamipun kembali menangis sambil mengingat kembali momen-momen bersama saat di pendakian, Nono sempat memperingatkan saya sebelum tersesat di Gunung kemarin.
Pol : “Adikk lu pu kaka ada titip pesan di beta tadi pagi melalui mimpi, Kaka Nono bilang kalian jangan menangis lagi, jangan cari-cari aku lagi ,bapa sama mama juga jangan terus sedih, aku udah senang kok, makasih buat kebersamaannya selama aku hidup” (kata Pol sambil menceritakan pesan Nono)
Tiba-tiba Ibu Nono datang ke saya memberikan saya secarik kertas kecil kepada saya. Sesaat saya benar-benar tak bisa menahan derasnya air mata saya setelah melihat daftar catatan bahan logistik pendakian terakhir kami, yang ditulis si Nono sebelum berangkat ke pasar, saya merasa bersalah, karena memesan itu semua kepada si Nono, dan si Ben dan Dion pun menenangkan saya. Cerita pun tamat.
Komentar