Cerpen -Tersesat Di Gunung Mutis
Tersesat Di Gunung Mutis
Cerpen By: Krisopras Eben Haezer
Namaku Sem, mulai hari ini aku
akan berangkat ke rumah Pol bersama ketiga temanku yang lainnya Bernama Al,
Ben, dan Nono untuk persiapan logistik dan persiapan budget menuju pendakian
Gunung Mutis, kalau dari tempat Pol sendiri menuju lokasi gunung tersebut hanya
berjarak sekitar 3 jam saja. Seingat saya kala itu tepat di hari Rabu sekitar
pukul 12 siang kami sudah menyewa jasa mobil pick up berwarna putih terang
untuk menuju ke lokasi pendakian yang jaraknya menurut saya sudah cukup dekat
dibandingkan lokasi gunung lainnya di NTT.
Waktu di perjalanan Si Ben itu
mabuk darat sampai muntah-muntah tidak jelas akibat terlalu banyak goyang perut di mobil mungkin karena duduk di bekakang. Si Al yang memiliki postur tunjang dan sifatnya humoris itu
langsung mencela keadaan saat itu, “We Ben kamu baru perjalanan 2 jam sudah KO
begitu, aku gak bisa bayangkan pas kita naik nanti ni” , Saya yang posisi pada
saat itu yang paling senior dalam pendakian merasa terbeban untuk memberi waktu
jeda agar mobil segera diberhentikan sebentar supaya Ben bisa muntah-muntah
ria, “kamu muntah-muntah sana di balik pohon sana” kataku sambil agak emosi,
Pol memberi Ben minum, setelah itu melanjutkan perjalanan.
Singkat cerita kami sudah sampai di Basecamp
sekitar pukul 4 sore dengan melewati banyak sekali pemandangan yang indah seperti
pepohonan besar dengan ranting dan dahan yang rindang, dan setahu saya pohon-pohon
tersebut merupakan penopang ekonomi penduduk sekitar karena dahannya dipenuhi
oleh sarang lebah madu hutan. Dan karena faktor kelelahan kami tidak langsung
berangkat menuju pos 1 pendakian melainkan kami beristirahat 1 malam di Homestay
yang terdapat di Basecamp gunung Mutis. Anehnya disitu pendaki yang datang cuman kami berlima. Kebetulan pemiliknya orang baik mau
ngasih diskon ke kami karena saudara dekatnya si Nono juga. Dari jauh si Nono
ini jarang bicara sama kami entah kenapa, terakhir berbicara sama kami waktu di
rumah si pol. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore dan kami
menyiapkan makan malam dan perbekalan untuk rencana berangkat ke pos satu di
pagi buta pukul 4 subuh.
“Oyy Al si Nono kemana? Dari tadi
sonde kelihatan” kataku dengan lugas , “Sonde tau bro di kamar yang ada cuman
si Pol dan Ben yang lagi tertidur pulas, karena capek pastinya” ,Kata Al.
Seketika saya langsung bergegas mencari Nono di area Basecamp sekitar. “Oh
disitu kamu rupanya” ,saat itu saya melihat Nono sedang minum air putihnya di
bawah pohon besar dekat dengan sungai apalah namanya saya lupa saat itu.
“Ngapain lu disitu No, sudah malam oyy banyak nyamuk, mari sudah pulang, kita makan
empal sapi yang lu suka tu” Kataku sambil agak terburu-buru, Saat itu Nono
hanya mengangkat alisnya sembari mengangkat jempol dan Kembali berjalan bersama
menuju Base Camp. Kami pun beristirahat di Base camp tersebut selama hampir
satu malam penuh.
Tiba-tiba Alaram berbunyi
menunjukkan waktu pukul setengah empat subuh, saya langsung membangunkan
ke-empat teman saya untuk segera packing-packing. “Oyy mari ketong bangun, weh
Ben..ben, Al..Al, Pol….pol bangun sudah, weh… Nok nok, weh… Nono..lu rajin doa
oo su bangun duluan”, Kataku sambil terbawa ngantuk sesaat “Beda..na…..” ,Kata si
Ben.
Disini target estimasi saya
sebagai pendaki senior yaitu untuk sampai ke pos satu kurang lebih satu
jammanlah dengan berjalan kaki, harapan saya jangan sampai ada hujanlah. Singkat
cerita kami pun berangkat berlima, dengan urutan pendakian Saya paling belakang,
si Nono di depan saya, Ben urutan ketiga, Pol Urutan kedua, dan si Al paling
depan. Al yang memiliki semangat juang tinggi saya tempatkan di depan,
sedangkan saya lebih fokus untuk keamanan keempat kawan saya supaya tidak
terjadi apa-apa.
Saat itu hawanya masih
sangat-sangat dingin, maklum jam empat subuh masih ada kabut malam juga dan tak
terasa kami sudah sampai pos satu pukul setengah enam pagi, dimana cahaya matahari
sudah mulai menyelimuti kami. Di tengah perjalanan tadi, kami melihat keindahan
alam yang sangat indah dimana di sekitar gunung ada banyak Kawasan hutan yang
banyak ditumbuhi oleh tanaman ampupu dan cendana, meski sepertinya terlihat ada
banyak Kawasan kosong, tapi sesekali saya melihat di satu titik tertentu ada
tumbuhan seperti bonsai dan paku-pakuan, lalu ada pohon besar juga. Setelah
sampai kami pun beristirahat di pos itu sampai pukul 9 pagi dan melanjutkan
perjalanan ke pos dua yang berjarak 3 jam dari lokasi pos satu. “Wehhh aku terlalu
loyo Al….” Kata Pol yang waktu itu masih ngos-ngosan mendaki, “Kamu harus
Latihan jalan sambil atur napas bro, setiap 3 tarikan napas 10 langkah pertama
dan seterusnya” Kata Al dengan bijak. “Gak papalah, kamu jalan pelan-pelan saja
jangan buru-buru, lu tiru si Ben itu” Kataku. “Ben Semangat yak…” kata Al yang
terlihat sedikit kecewa melihat Ben yang kurang fit mendaki.
Lalu Tiba-tiba Angin kencang
berhembus dari arah barat, saya yang saat itu kebelet buang air kecil mengabari
Nono yang kebetulan tidak terlalu jauh dari saya kira-kira 7 meter dibanding
teman lainnya yang sudah sangat jauh dari saya “Nokkk…!! Aku mau kencing……!,
kabari yang lain kalian duluan aja, nanti sebentar aku nyusul……!” , kataku
dengan lantang, “ Iyaaaaa hati-hati ular…..!” Kata Nono dengan singkat. Yang
Nono harapkan untuk tidak terjadi malah jadi kenyataan, setelah saya selesai
buang air kecil saya melihat ada mahluk panjang yang bergerak cukup cepat
kearah saya, seketika saya berlari kencang untuk menghindari ular yang
kira-kira panjangnya hampir 2 meter itu dengan warna hijau pucat berderik. saya
mengeluarkan golok saya juga untuk berjaga-jaga. Beruntung ular tersebut
tiba-tiba saja menghilang dibalik semak-semak tebal.
“Oh sial dimana aku?” Kataku di
dalam hati. Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas pagi, dan semak-semak
tebal itu seakan-akan memberitahukan saya bahwa saya salah jalan, dan ini
sangat aneh padahal saya baru berpisah dengan Nono dan kawan lainnya sekitar 8 menit, namun tampilan trek yang saya lalui saat ini benar-benar telah berubah
menjadi jalan setapak langka yang awalnya trek itu merupakan punggungan bukit
tiba-tiba seperti kedalam lembah. Awalnya saya cukup panik, namun saya harus
tetap fokus dan tenang, itulah nasehat abang senior saya dulu kalau kita
tersesat. Dan saya memutuskan untuk tetap berjalan menyusuri lembah yang diatas
saya itu terdapat tebing dengan ketinggian 100 meter lebih.
Karena mental saya cukup
terkuras, saya mulai merasakan rasa lapar dan mengantuk, kala itu saya membawa
cemilan untuk 2 hari saja. Pada akhirnya saya memutuskan untuk berhenti
disebuah batu yang cukup besar beristirahat sejenak sembari makan dan
minum lalu cuci muka. Namun tiba-tiba,
saya mendengar ada suara langkah kaki seperti suara sepatu besar yang menginjak
tanah, dan betul saja rupanya muncul sesosok kakek misterius yang datang sambil
memikul kayu bakar dengan tandu bambu kebetulan bertemu dengan saya. “Ini
kamunya kok sendiri, temannya pada kemana?” tanya kakek itu seolah dia tahu apa
yang terjadi pada saya , sontak saya kaget dan menjawab dengan tenang, “Kek saya
sedang mencari keberadaan teman-teman saya” , “oh….tadi kakek lihat
mereka-mereka yang empat orang itu naik keatas sana, ehh tapi bosong mainnya
disini jangan kemalaman loh” Kata kakek, “son papa kek, masih pagi, makasih lho
udah kasih tahu saya”, ujar saya, “ngomong-ngomong saya ini disini sebatang
kara lhoo, keluarga udah gak ada, kesepian kakek ini nak” , “Terus teman-teman
kakek ada dimana? Tanyaku dengan buru-buru , “teman kakek udah gak tau kemana
semua” kata kakek, “kok bisa kek?”, “Usia saya udah 143 tahun nak”.
Saya yang kebingungan karena
posisi saya pada saat itu makin kebingungan gara-gara percakapan itu, saya
tidak mau memikirkan apa-apa dan sebelum saya pergi meninggalkan lokasi kakek
itu, beliau memberi saya plastik putih yang rupanya isi singkong sama kentang
bakar “Nanti bagi-bagi aja bareng kawan-kawan diatas yak….”kata kakek sebelum
berpisah , saya saat itu semakin khawatir tentang situasi teman-teman saya
apalagi Ben dan Pol masih sangat pemula pada saat itu. Waktu sudah menunjukkan
pukul setengah dua belas siang dan tidak terasa sudah sekitar satu jam
berbincang ria dengan sang kakek aneh itu. Sambil berlari sekitar 100 meter
dari lokasi awal, tiba-tiba saya mendengar suara yang tidak asing di telinga
saya, saya seperti mendengar ada beberapa suara pendaki yang sedang merayakan
sesuatu di puncak, dengan beberapa mars-mars heboh dari abad dua puluh. Namun
dari jejak suara-suara yang ada, saya tidak menemukan siapa-siapa di hutan yang
rimbun itu,
Entah kenapa saya lapar sekali
dan saya mencoba singkong yang dikasih oleh si kakek tadi. Sambil berjalan
santai, saya sudah kembali menuju trek-trekan yang sekiranya ini adalah jalan
yang benar menuju pos dua, namun pos dua tersebut kosong tidak ada orang,
meskipun begitu saya masih melihat sisa-sisa api kayu bakar yang masih nyala
berkunang, yang menandakan bahawa barusan pasti ada pendaki lain disini, dan
saya meyakini bahwa pasti ini bekas teman-teman saya yang sehabis membuat
tenda.
Setelah berjalan 10 menit dari
pos dua untuk menuju ke puncak, saya melihat awan betul-betul semakin gelap dan
kabut menyelimuti hamparan pepohonan, saya tidak mau mengambil resiko dan
bergegas kembali ke pos dua, untuk membuat tenda. Saat di perjalanan, hujan sudah
sangat lebat dan tas saya serasa sangat berat padahal logisnya beban tas saya itu
tidak akan sampai seberat ini rasanya seperti saya menggendong seseorang di
belakang. “Ahhh mungkin perasaanku saja, karena hujan “ kataku dalam hati
sambil berpikir positif, sesampainya kembali turun ke bawah di pos dua, yang
tadinya tidak ada tenda, tiba-tiba sekarang ada tenda besar yang kira-kira
cukup untuk ditempati satu kelompok besar, saya langsung membunyikan peluit SOS
saya, dan mereka semua keluar.
“Anji** kalian semua, dalam nama
Yesus pergi kalian” kataku sambil memaki, terlihat 3 mahluk bayangan besar
keluar dari tenda dengan mata merah menyeramkan hampir menyerupai perawakan
beruang besar hanya saja lebih besar lagi dan gelap kira-kira hampir tiga
meterlah. Saya langsung lari pontang panting gak tau tujuan kemana, antara
keatas dan kebawah. Dan apa yang saya takutkan terjadi, tiba-tiba ada yang
menarik tas besar saya dan saya menoleh kebelakang rupanya Si Pol yang kebasahan
dan beberapa teman lainnya sambil meneriaki saya ,“Woiiiii kenapa kau weeee!?!?”
Kata Pol sambil kebingungan, “Jangan aneh-aneh kamu Sem, lu kan masih demam toh,
hujan-hujan lagi”, Kata Alfian yang terlihat kepanikan, dan saat itu saya hanya
bisa menjawab “Kalian kenapa nggak nyari aku?, malah ninggalin, besong semua
talalu konyol” kataku sambil kecewa berat. Si Ben yang terlihat tenang mengajak
kami semua masuk ke dalam tenda dan memaksa kami menceritakan semua kejadian
yang kami alami saat di pendakian.
Ben dan Nono bercerita bahwa sekiranya
kalau dia selama mendaki masih bersama-sama dengan saya dengan perawakan saya
pada waktu itu memakai jaket tebal berwarna kuning gelap dengan kupluk hitam
yang khas, hanya saja saat itu wajah saya sangat pucat dan terlihat seperti
orang yang akan kehabisan nafas dan mau hypotermia, dan saya membantah
mentah-mentah hal itu dan mengatakan bahwa “wehh kalian su kasih tinggal beta hampir
empat jam, sadar kalian!”. Cekcoklah kami semua disitu dan menyadari bahwa ada
kejanggalan serius di gunung ini. Sementara itu hujan berlangsung sangat lama
sekitar 5 jam tanpa henti, dan dari situ semua teman-teman saya terlihat
ketakutan, apa lagi saat diperjalanan tadi si Pol sempat melihat penampakan perempuan
jubah putih terbang dari pohon lontar ke pohon besar lainnya, terbang di siang
bolong. Kami baru tahu bahwa kami sedang merinding hebat belum lagi sambil
kedinginan akibat hujan lebat, Al membuatkan kami teh panas untuk memecah
suasana. Dan tak terasa jam sudah menunjuk pukul setengah enam sore, dimana
hujan sudah mulai reda yang harusnya target estimasi saya ke puncak Mutis bisa
jam empat sore jadi terlambat berjam-jam dan mundur untuk melanjutkan
perjalanan di pukul enam sore, kami waktu itu packing-packing barang. Kemungkinan
kami sampai ke puncak Mutis sekitar pukul 8 kamis malam. Untuk menghindari
kejadian yang sama kami mengubah urutan pendakian dimana saat itu saya yang paling senior
malah ditempatkan junior-junior saya di paling depan dan Al yang membackup kami
semua di paling belakang. Saat di perjalanan gelap itu tiba-tiba kami mencium
bau parfum yang sangat pekat, “Bau ap ini Bennnn?!” Kata Pol “Parfum-parfum….
gak asing baunya, nok nok lu pake parfum tohhh?” kata Si Ben sambil kebingungan
, “Mana ada sumpah….”, Kata nono yang terperangah.
Malam semakin mencekam setalah
saya sadar bahwa jalan yang saya lewati itu adalah titik pertama yang kami
lalui dimana ada banyak titik kawasan seperti tanaman bonsai dan paku-pakuan
lebat lalu ada pohon besar ditengah-tengahnya, “Stop-stop doloo, ini bukan
jalan benar kita mutar kejalan yang sama seperti mau naik ke pos satu, disana itu pos satu kalau kita naik keatas…” kataku dengan bijak. “Udahan
yuk kita pulang aj” kata Nono. Disini yang awalanya nono terlihat pendiam sudah
terlihat makin gelisah dan pucat , “Iya Sem lagian kita gak mungkin sampai jam
delapan kalau begini” kata Al yang juga terlihat ngeri sendiri, dan si Ben
mulai menceritakan sejarah panjang terkait gunung Mutis yang begitu panjang
selama perjalanan tentang keberadaan para Raja-raja bangsawan Timor jaman
dahulu kala.
Dan awalnya kami sudah memutuskan
untuk kembali naik ke pos satu yang berjarak dua puluh menit dari titik itu,
untuk besok paginya kembali turun ke basecamp segera pulang. Dan ditengah
perjalanan kami mendengar suara gong-gong yang berkumandang dan seperti ada
suara sasando nyentrik dengan alunan merdu treng…treng…(suara sasando). “Bentar
lagi nyampe pos satu, kalian tetap tenang yak” Kataku untuk menenangkan mereka agar
jangan panik. Al yang tadinya paling belakang “Woiiiii lari-lari!!, lari semua
jangan lihat belakang, pokoknya lari…….!!!” Al terlihat panik sekali. Pol
terlihat berlari terbirit-terbirit berlari mendahuli saya ke pos satu, si Ben
berlari sambil menangisi nasibnya yang sial.
Beruntung sampailah kami ke pos satu
dan kami membangun tenda disana. Pol terlihat mengecek sinyal hp merek vivonya,
siapa tahu ada sinyal dan bisa meminta bantuan segera dari basecamp, sayangnya
tidak ada sama sekali. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Ayo mari
berdoa kitanya” kata Pol dengan lantang. Kamipun berdoa dan membaca beberapa
kutipan ayat Alkitab dari kitab Mazmur dan Amsal.
TIBA-TIBA, “Astaga Al Alllllllll!!”
kata si Ben sambil meringis ketakutan, Al yang nama kepanjangannya Alfian tersebut terlihat menari-nari seperti
perempuan jawa, matanya yang tajam menjadi lentik seperti bukan matanya lagi.
Suasana tenda kami dipukul sebelas malam berubah menjadi seperti hawa yang sangat
panas seperti pukul dua belas siang karena wajah-wajah ketakutan kami. Saya yang paling seniorpun tidak tahu harus berbuat apa “YANG DISANA BUKAN TUBUH TEMAN
KALIAN!!” kata Al, dan akhirnya Al jatuh pingsan setelah keluar dari tenda
dibawah pohon-pohon kecil. Tibalah Nono datang dan mengatakan “Teman-teman kita harus
segera pulang…”. Kami pun beristirahat kembali kedalam tenda kira-kira sampai
jam 5 pagi menjelang sunrise.
“Sebelum turun kebawah, ayo kita
berfoto dulu di puncak pos satu ini….” Kata Al setelah sekian lama beristirahat di dalam tenda. Disini kami menyadari bahwa
momen berharga kami satu-satunya yaitu pos satu ditemani oleh sunrise pukul enam
pagi sebelum berpisah dengan gunung Mutis. “Nok…nok mo kemana? Ayo foto….” kata
Pol dengan lantang, “Aku gak ikutan yak, kita buruan pulang” kata Nono dengan
suara pelan. “Kenapa noooo..” kataku , “Gak papa, kalian berempat aja foto”
kata nono, lalu aku menghampiri nono setelah berfoto dengan Al, Ben
dan Pol, “Inilah akibat kamu cuman makan roti sama minum air hangat terus, jadinya pucat-pucat terus” kataku kepada si Nono, aku tiba-tiba menyadari plastik putih
berisi singkong dan kentang bakar yang dikasih kakek 143 tahun itu, isinya
berubah menjadi tumpukan sampah. Saya tidak menceritakan ini kepada teman-teman supaya
tidak merusak suasana menyenangkan ini. Nono yang terlihat pucat tiba-tiba saja
pamitan dengan kami “Eh kalian, aku turun duluan ya…..,Besong senang-senang aja
dulu” kata nono , “Eh minum-minum dulu dong nokkk…jangan langsung tinggal
begitu” kata Al dengan nada kecewa. “Gak papa nanti kita ketemuan dibawah aja
di base camp” kata nono. “ya udah duluan
aja” kataku.
“Gak papa ninggalin dia
sendirian?...” kata si Ben kepada si Al, “Sonde papa, lagian dia udah hafal
jalan setapak…”, jawab Al . Tiga puluh menit setelah berfoto dan minum kopi,
nyemil. Kami pun bergegas turun untuk mengejar Nono dibawah. Sampailah kami
dibawah tepatnya di area Basecamp, kami pun duduk di warung milik Ibu-ibu cukup
berumur di dekat Basecamp sambil pesan mie pangsit. “Kalian kenapa main ke
gunung sampai pas malam jumat kliwon?” Kata Ibu itu sambil menyuguhkan makanan.
“Kami gak tau apa-apa Bu…,asli” kataku dengan nada kaget.
Si Pol kembali ke warung setelah
dari kamar Basecamp, “Nono gak tau dimana, di kamar gak ada, di kebun juga
sondeee ada…” Kata si Pol dengan nada panik. Salah satu dari mereka mencoba
menelepon ke nomor nono namun tak diangkat padahal sinyal sudah ada saat itu, dan yang
lainnya sedang sibuk dengan medsos mereka masing-masing. “Sem….sem ini siapa
sem?, kok di facebookku semua orang pada ngepost foto diaa…” Kata si Ben yang
tadinya sibuk medsos jadi terlihat terperangah.
Aku yang kala itu sudah sangat-sangat
kelelahan harus dihadapkan sebuah kenyataan bahwa ada kabar bahwa hari selasa
tanggal 27 November 2010 kemarin siang, Nono kecelakaan motor setelah pulang
dari membeli bahan logistik dari pasar untuk perjalanan pendakian kami dan dia
harus kehilangan nyawanya ditempat. Kami semua benar-benar tak percaya kabar
itu. Saat diperjalanan pulang Si Pol bercerita bahwa di kamar basecamp tadi dia
sempat ketiduran 20 menit, dan bermimpi didatangi oleh si Nono yang tampak Bahagia
dan bilang ke si Pol, “Pol makasih ya udah nemanin mereka waktu mendaki meskipun sebenarnya kamu gak mau ikut mendaki, nanti
bilang ke teman-teman, gak usah nyari aku lagi…., beta ni sekarang su bahagia,
bisa menemani kalian semua, aku minta maaf kalau punya salah sama kalian selama
ini, kasih salamku ke Si Sem..,Al…,Ben…., dan Dion adik gua di rumah” cerita mimpi Pol
sambil perjalanan menuju arah rumahnya si Nono.
Pol yang terlihat begitu paling
merasakan kesedihan tersebut dia benar-benar meneteskan air mata hangatnya ke
lantai mobil itu, kami semua pun ikut menangis. Sesampainya di rumah si Nono kami
melihat setidaknya puluhan kerumunan orang yang menghampiri rumah nono beserta
kami mendengar ada suara-suara kesedihan. Dan tiba-tiba Dion adik si Nono datang menghampiri
kami dan mengundang kami masuk melihat jenazah yang masih dibiarkan terbuka
untuk dilihat oleh kami. Kamipun tak tahan melihat teman kami yang sudah tiada
dan kamipun kembali menangis sambil mengingat kembali momen-momen bersama saat
di pendakian, Nono sempat memperingatkan saya sebelum tersesat di Gunung
kemarin.
“Adikk lu pu kaka ada titip pesan
di beta tadi pagi melalui mimpi, Kaka Nono bilang kalian jangan menangis lagi,
jangan cari-cari aku lagi ,bapa sama mama juga jangan terus sedih, aku udah senang kok, makasih buat kebersamaannya selama aku hidup”, kata Pol sambil menceritakan pesan Nono. Tiba-tiba Ibu Nono datang ke saya memberikan saya secarik kertas kecil kepada saya. Sesaat saya benar-benar tak bisa menahan derasnya air mata saya setelah melihat daftar catatan bahan logistik pendakian terakhir kami, yang ditulis si Nono sebelum
berangkat ke pasar, saya merasa bersalah, karena memesan itu semua kepada si
Nono, dan si Ben dan Dion pun menenangkan saya. Cerita pun tamat.
Komentar