Revitalisasi Bahasa Daerah
Revitalisasi Bahasa Daerah
Menurut Hinton (2011: 291—293), revitalisasi bahasa adalah upaya untuk mengembalikan bahasa yang terancam punah pada tingkat penggunaan yang lebih baik dalam masyarakat setelah mengalami penurunan penggunaan. Topik kali ini tentang revitalisasi bahasa daerah dan apa yang menjadikan hal ini begitu penting untuk kita bahas. Alasan utamanya yaitu karena negara kita memang jangan sampai melupakan jati dirinya seolah berkhianat kepada tanah leluhur kita. Dan perlu kita ketahui bahwa dari 718 bahasa daerah di 34 provinsi, 25 bahasa daerah terancam punah, 6 dinyatakan kritis dan 11 bahasa telah punah. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyatakan banyak bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya terancam punah dan kritis dan bahkan menurut UNESCO, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, ada 200 bahasa daerah di dunia yang punah. Setiap tanggal 21 Februari dunia akan memperingati hari Bahasa Ibu Internasional.
Ada begitu banyak hal yang menjadi faktor penyebab kepunahan suatu bahasa daerah seperti persaingan ketat antar bahasa nasional dan bahasa daerah itu sendiri menjadi ancaman paling mendasar bagi eksistensi bahasa tersebut, dimana generasi saat ini dibandingkan leluhur kita lebih nyaman bergaul atau berkomunikasi dengan orang lain dengan bahasa yang lebih efektif dan umum di kalangan masyarakat. Saya sendiri sebagai penulis dulunya sempat bertanya-tanya tentang keaslian bahasa daerah saya, dimana menjadi tanggung jawab saya untuk mengenal kebudayaan sendiri sebagai bentuk jiwa nasionalisme terhadap keluaraga dan masyarakat. Mungkin inilah salah satu faktor utama mengapa bahasa daerah bisa punah, salah satunya juga yaitu perkawinan silang, transmigrasi dan imigrasi.
Saya dilahirkan oleh orang tua dengan perbedaan yang cukup mencolok secara geografis dan budaya, Ibu saya berdarah Nias Batak, sedangkan Ayah saya Jawa Manado. hal ini memang terkesan mudah diterima oleh masyarakat di zaman sekarang. Tapi kalau kita lihat di zaman dahulu, ada sedikit masalah kalau menikah dengan budaya lain. Contohnya saja kalau saya dengar dari orang tua saya bahwa orang nias itu dahulu tidak boleh kawin dengan orang timur Indonesia, karena alasan budaya yang sangat berbeda. Namun kenyataanya saat ini teman SMP saya saat ini ada yang salah satunya berdarah Nias dan Flores, maka tak heran kalau dia kehilangan identitas bahasanya sendiri karena Ayah dan Ibunya sering berbicara bahasa nasional agar bisa berkomunikasi sewajarnya layakanya perbedaan bahasa daerah antara suami dan istri.
Lantas apakah salah kalau kita melanjutkan proses generasi ini dengan cara yang saya ceritakan di atas? menurut saya tentu tidak, karena kita adalah negara yang berikrar kepada dasar pancasila yang jelas menyimpulkan bahwa Nusantara ini sudah dipersatukan oleh leluhur kita yang saat ini telah menyatu meski dalam perbedaan, dan oleh karena itu janji para leluhur kita ini harus kita pegang sampai kita mati.
Cara yang paling umum sudah biasa dilakukan pemerintah saat ini yaitu merevitalisasi bahasa daerah dan pentas seni daerah. Tujuan pemerintah sendiri adalah menumbuhkan rasa kecintaan kita terhadap budaya kita sendiri. Saya sendiri jadi ingat bagaimana bisa saya orang Indonesia, ketika waktu kelas 10 SMA tiba-tiba saja jadi tertarik terhadap budaya Jepang yang saya anggap waktu itu begitu elegan akan bahasa dan pakaian-pakaian adatnya bahkan hingga saat ini, bahkan tidak hanya saya saja, teman-teman dan seluruh duniapun tahu akan hal ini. Dari sini kita juga bisa menyimpulkan kalau pengaruh iptek seperti film anime, tontonan sepak bola Jepang di piala dunia, atau industri-industri otomotif dari Jepang benar-benar bisa mendoktrinasi kita secara tidak langsung untuk menyukainya lebih dari budaya kita sendiri, biasanya hal ini lebih banyak dialami oleh remaja yang ada di perkotaan dibandingkan daerah pedesaan yang jauh dari sinyal internet dan pergaulan yang kurang selektif.
Sepertinya budaya Jepang memang mengajarkan kita satu hal yaitu tentang adaptasi dan jadilah pemenang. Mengapa saya katakan demikian, karena memang Jepang benar-benar mampu membawa budayanya dikenal oleh dunia secara positif dan dicintai masyarakat dunia yang dikenal selektif. Seperti kita yang sudah mengklaim budaya barat lebih condong ke hal yang negatif dibandingkan wilayah Asia Timur. Jadi saran saya tidak cukup pemerintah hanya merevitalisasi bahasa daerah atau budaya kita hanya dari dalam negeri saja namun juga harus dikenal dunia bukan dengan strategi konser atau tindakan yang terbatas atau tidak sempurna, tapi juga melakukan perubahan dari sektor ekonomi, pendidikan, hukum, industri hiburan tanah air. Intinya setiap tindakan pemerintah sudah seharusnya menanamkan nilai kearifan budaya lokal bukan hanya mentang-mentang kuli India lebih hebat dari kuli Jawa, jadinya kita membenci bangunan dari yang dibangun oleh kuli Jawa arti candaan saya ini adalah setiap bidang pemerintah itu berkesinambungan dan tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan budaya. bahkan ada sebuah pepatah yang mengatakan "kebiasaan membentuk karakter, dan karakter membentuk budaya".
Kesimpulan utamanya adalah jangan biarkan jati diri kita ini memudar, tetaplah menjadi diri kita yang terus selalu bersyukur, kalau kita mencintai keluarga kita sudah otomatis kita pasti mencintai budaya kita. Semuanya dimulai dari sebuah keluarga dari keluarga tersebut kita dapat memelihara bahasa daerah kita dan menjaga tradisi budaya yang baik untuk memberitahukan dunia bahwa kita masih bisa bertahan dari kerasnya dunia ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Komentar