Harapan Besar Buat Pelatih STY
Selama saya hidup, saya tidak pernah terlepas pada pandangan pertama saya kala itu pada tahun 2009 silam saat saya masih bersekolah SD kelas 1 di Bandung, saya sudah jatuh cinta kepada tontonan sepak bola dalam negeri seperti mengidolakan Christian Gonzales dan Persib Bandung, entah itu dari liga-liga lokalnya maupun tim nasionalnya. Pengalaman yang saya rasakan selama belasan tahun dalam mengikuti perkembangan sepak bola yang ada di Indonesia, bisa saja tidak biasa untuk dirasakan oleh orang lain, mengingat kenangan pada saat Persib Bandung berhasil mengalahkan Arema FC di laga Final ISL 2014 (Indonesia Super League) pernah mencederai pergelangan kaki saya sendiri akibat terlalu bahagia atas kemenangan Persib melalui adu penalti penentu melawan kiper Kurnia Mega, saat itu yang menendang adalah Makan Konate.
Momen haru seperti itulah yang paling tunggu sekaligus saya rindukan, dan kenyataannya untuk Timnas kita sendiri belum pernah mengalami hal demikian bahkan untuk tahun kemarinpun masih belum, negara kita terus menjadi negara yang haus akan piala, jangankan piala Asia, piala Asia Tenggara saja belum pernah memenagkannya kecuali untuk U-16, U-19, U-23.
Kekalahan Timnas Indonesia selalu muncul disaat momen yang begitu menyedihkan buat saya yaitu selalu di partai final piala AFF, dan itu sudah terulang sebanyak enam kali. Kekalahan terakhir bangsa kita yang ke enam dipegang oleh pelatih Shin Tae Yong (STY) asal Korea Selatan dan sekaligus mantan pelatih piala dunia 2018. Namun ada satu hal yang terlihat berbeda dari permainan Timnas kita waktu tahun lalu, sesuatu yang baru yang belum pernah saya lihat dari timnas sejak tahun 2009 hingga sekarang yaitu sebuah visi baru layaknya sebuah sayap baru yang muncul dari keseriusan pelatih dan federasi sepak bola yang mana begitu berbeda mengingat PSSI berani membayar mahal pelatih kelas dunia seperti STY di harga 1 juta dollar AS atau 14,2 milliar pertahunnya, selain itu federasi yang sedang dibintangi oleh pelatih STY dan federasi saat ini sedang banyak memoles banyak anak muda di bawah 18 tahun di luar negeri seperti pemusatan Latihan di Inggris dan Eropa lainnya, nama programnya “Garuda Select”, hal ini adalah hal baru bagi saya mengingat minimnya pengalaman pemain kita untuk tampil di luar negeri, tidak tanggung-tanggung ada banyak tim eropa yang ingin merekut pemain muda kita.
Bagi saya kekalahan Indonesia di Tahun lalu di piala AFF adalah langkah awal Indonesia untuk mengibaskan sayapnya untuk terbang lebih tinggi lagi dimana seperti yang kita ketahui seekor burung perlu mengetahui target dan tujuan yang pasti untuk melayang tinggi di atas langit. Itu artinya masih ada banyak kelemahan timnas dan federasi kita yang perlu diperbaiki. Bagi saya setelah pemerintah berani membayar harga kepada PSSI, PSSI juga harus bertanggung jawab penuh untuk merubah tatanan systemnya.
Dan langkah awal yang seharusnya berani diterapkan bagi saya adalah membawa pemain muda Indonesia sebanyak-banyaknya bermain di luar negeri, bukan hanya karena tujuan sponsor namun juga pengembangan skill para pemain kita. Bagi saya liga 1 yang ada di Indonesia seperti liga 2 di Jepang dan Korea Selatan. Hal ini tentunya belum cukup untuk pengembangan pemain kita.
Kabar bahagianya ada pemain seperti Asnawi, Egy, Witan, Bagus, dan ada beberapa pemain lainnya sudah memulai awal yang baik untuk memotivasi pemain lainnya agar berani bermain di luar negeri karena mereka sudah duluan mengawali karir mereka di sana.
Pesan saya untuk setiap orang yang sedang membaca artikel atau essay saya hari ini adalah “jangan kalut terhadap sesuatu yang belum tentu anda dapatkan, namun nikmati progessnya”. Bagi saya itulah arti kedatangan Pelatih STY Januari 2020 kemarin. Dan satu lagi “senang menonton sepak bola Indonesia berarti mencintai produk dalam negeri”. Sekian dari saya Terima kasih.
Komentar